EKSISTENSI KIDUNG TURUN TAUN DALAM PENGUATAN MODERASI BERAGAMA DI PURA LINGSAR KABUPATEN LOMBOK BARAT
Buku ini mengangkat Kidung Turun Taun sebagai warisan spiritual dan kultural yang hidup di Pura Lingsar, Kabupaten Lombok Barat. Kidung ini bukan sekadar nyanyian sakral, melainkan jembatan antara manusia, Tuhan, leluhur, dan alam semesta. Lantunan kidung diyakini memiliki kekuatan kosmologis yang menyeimbangkan alam, menjaga kesuburan tanah, serta memperkuat ikatan sosial lintas komunitas, terutama antara umat Hindu dan masyarakat Sasak Wetu Telu.
Melalui kajian sejarah, filosofi, dan estetika suara, buku ini menelusuri asal-usul kidung, proses pewarisan dari generasi ke generasi, hingga fungsi ritual dan makna kesuburannya. Struktur sastra, perpaduan bahasa Sasak dan Bali, serta nilai seni spiritual kidung ditelaah secara mendalam, menyoroti bagaimana tradisi ini menjadi sarana pendidikan nilai bagi generasi muda.
Lebih jauh, Kidung Turun Taun ditampilkan sebagai simbol moderasi beragama dan harmonisasi sosial, di mana perbedaan keyakinan dilebur dalam rasa persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan. Buku ini menekankan pentingnya melestarikan tradisi melalui partisipasi aktif masyarakat, peran juru kidung, dan dokumentasi ilmiah, agar warisan sakral ini tetap relevan sebagai sumber spiritual, perekat sosial, dan penuntun moral bagi kehidupan modern yang berakar pada kearifan lokal.
KARYA :
Ni Komang Wiasti, S.Pd., M.Pd.H
ISBN
ON PROGRESS
Penerbit
CV. Windari Cendekia
Halaman
X + 80
Harga
Rp. 130.000